Bergulat Melawan Kesia-siaan

Posted: Februari 14, 2011 in religion

oleh: P. Edward McIlmail, LC


Pater Edward, saya baru menyadari melalui bimbingan rohani, doa dan banyak rahmat bahwa akar dosa saya adalah kesia-siaan!!! Dan saya merasa terpukul mengetahui fakta ini. Saya merasa sepertinya sekarang Tuhan meninggalkan saya seorang diri (saya tak merasakan kehadiran-Nya) guna menguji saya dan saya tengah bergulat melawan kenyataan ini. Bagaimanakah saya dapat terus memelihara iman yang teguh dan menghadapi rasa tidak aman sehari-hari dalam diri sendiri?


Senang mendengar bahwa Tuhan telah menganugerahimu rahmat untuk memahami diri sendiri secara lebih baik. Bahkan meski engkau merasa lebih rendah hati, ingatlah bahwa “kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yohanes 8:32). Marilah ingat bahwa kesia-siaan adalah turunan dari kesombongan. Sementara kesombongan mendorong kita untuk menempatkan diri lebih utama dari Tuhan dan sesama, kesia-siaan membuat kita menilai pengakuan orang lain lebih dari kehendak Yang Mahakuasa. Mengakui bahwa kesia-siaan adalah akar dosa kita dapat cukup memalukan, khususnya jika kita menerimanya sebagai suatu cacat ketidakdewasaan. Sesungguhnya, kesia-siaan lebih lazim dari yang kita pikirkan. Dan jika kita tidak berhati-hati, kesia-siaan dapat menyelinap masuk ke dalam tiap pori-pori kehidupan sehari-hari.

Kesia-siaan mempunyai manifestasi yang jelas. Kita dapat cerewet mengenai pakaian kita, misalnya, untuk menarik perhatian. Ini membantu industri fashion mengeruk keuntungan, tetapi masalahnya hal itu memicu api egoisme. Kesia-siaan mempunyai bentuk-bentuknya yang tak kentara juga. Mari mengambil kasus mengenai seorang tetangga yang mempersiapkan sepinggan lasagna lezat bagi seorang ibu yang terbaring tak berdaya di pembaringan, yang tak dapat memasak bagi keluarganya pada waktu itu. Secara lahiriah, tampaknya ini adalah suatu perbuatan cinta kasih. Tetapi dalam lubuk hati, si tetangga itu mungkin melakukannya: 1) untuk memamerkan kecakapannya dalam memasak, dan 2) untuk mengambil hati ibu ini yang kebetulan adalah seorang tokoh terkemuka di lingkungan. Dalam kedua kasus ini perbuatan-perbuatan baik yang dilakukan dapat tampak tak terlalu baik di mata Tuhan. Kesia-siaan yang demikian kehilangan rahmat yang sebenarnya mengalir dari perbuatan-perbuatan terpuji.

Dapat merupakan suatu kesadaran yang mengagetkan, setidaknya demikian, mengetahui bahwa kita condong pada kesia-siaan. Sekonyong-konyong segala “perbuatan baik” yang kita pikir kita lakukan sekarang tampak sebagaimana adanya: pemuas egoisme. Ketika kita menyingkapkan kesia-siaan dalam hidup kita, hal itu memberikan terang yang berbeda pada segala sesuatu; dapat membuat kita merasa seperti seorang munafik, dan sedikit patah hati.

Seperti akar-akar dosa lainnya, kesia-siaan merupakan suatu respon dari rasa tak aman seseorang. Mungkin orang merasa ditolak sebagai seorang kanak-kanak. Mungkin ia merasa bahwa ia tiada pernah cukup baik bagi ayah atau ibunya. Mungkin ia merasa kalah dibandingkan saudara kandungnya yang cemerlang dengan IQ 173. Apapun masalahnya, ia merasa tidak aman, dan sejak saat itu ia mencari rasa aman dalam pengakuan orang atas dirinya. Akan tetapi, ini bukanlah solusi. Solusinya adalah orang menempatkan rasa amannya dalam Kristus saja, menghargai penilaian Tuhan kita di atas penilaian orang-orang lain. Dan mengapa tidak? Kristus mengasihi kita lebih dari siapapun. Ia wafat di salib demi keselamatan kita. Kasih-Nya tetap hingga sekarang ini; itulah sebabnya mengapa Ia mengijinkan tantangan-tantangan tertentu dan masa-masa kering dalam hidup kita.

Tuhan mungkin meninggalkanmu tepat dalam keadaan yang demikian sekarang ini. Sekarang setelah engkau memahami akar dosamu (betapa itu sendiri merupakan suatu rahmat!), Tuhan hendak menghantarmu lebih jauh. Ia melakukannya dengan melepaskan roda-roda belajar, begitulah. Ia menghendaki tak hanya melepaskanmu dari ketergantungan pada pandangan orang-orang lain. Ia juga menghendaki melepaskanmu dari pengharapan-pengharapan akan bagaimana Ia menunjukkan kasih-Nya kepadamu. Bukannya Tuhan telah meninggalkanmu; tetapi Ia mungkin telah mengambil penghiburan-penghiburan yang mungkin engkau harapkan menerimanya dalam doa. Mengapakah Tuhan melakukan ini? Ia melakukannya guna memurnikan niat-niatmu. Ia menghendakimu berdoa dan bekerja semata-mata demi kasih kepada-Nya. Ia tak menghendaki kesalehanmu didasarkan pada perasaan-perasaan menyenangkan atau, jangan sampai terjadi, membiarkannya memuaskan egoisme apapun bentuknya. Tuhan menghendaki para pengikut-Nya terlepas sepenuhnya dari kesia-siaan, teristimewa sebab kesia-siaan dapat merayap masuk ke dalam kehidupan doa. “Oh, aku begitu khusuk hari ini dalam doa / Misa / adorasi… Aku sungguh seorang yang hebat.” Cukup! kata Kristus. Lakukanlah segalanya demi kasih kepada-Ku saja. Jadi, Tuhan sedang mengujimu sekarang. Allah telah menghantarmu ke padang gurun dan menarik penghiburan-penghiburan, semua itu demi tujuan menarikmu lebih dekat kepada-Nya. Kuncinya sekarang adalah ketekunan. Bertautlah pada kehidupan doamu, tak peduli betapa kering tampaknya doamu. Keraplah berupaya mendapatkan pertolongan dari sakramen-sakramen. Amalkan cinta kasih teristimewa kepada mereka yang sulit dihadapi. Dengan cara ini Tuhan kita hendak menempamu demi hati yang lebih murni. Demi kemuliaan-Nya, bukan kemuliaanmu.

Damai Kristus, P Edward McIlmail, LC

* Father McIlmail is a theology instructor at Mater Ecclesiae College in Greenville, RI.

sumber : “I discovered my root sin is vanity and I am struggling with this…” by Father Edward McIlmail, LC; Copyright © 2011 Catholic Spiritual Direction; http://rcspiritualdirection.com/blog
“diterjemahkan oleh YESAYA: yesaya.indocell.net atas ijin Catholic Spiritual Direction”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s