Bagaimana Mengatasi Akar Dosa Sensualitas?

Posted: Februari 14, 2011 in religion

oleh: P. John Bartunek, LC, ThD


Pater John, terimakasih atas artikel mengenai Akar Dosa. Artikel itu sungguh bermanfaat bagi saya. Pertanyaan saya: cinta kasih dan kerendahan hati tampaknya adalah keutamaan-keutamaan yang perlu dilatih apabila akar dosa kita adalah kesombongan atau kesia-siaan. Keutamaan apakah yang perlu dilatih guna mengatasi sensualitas?


Saya sangat senang engkau mengajukan pertanyaan ini! Ada dua alasan. Pertama, engkau tak membiarkan dirimu patah semangat oleh artikel yang panjang mengenai akar dosa. Saya sebenarnya ragu mempublikasikan, sebab saya tahu betapa sulit bagi kita untuk menghadapi dengan tegar realita kecondongan-kecondongan dosa kita. Tempat ideal untuk merefleksikan akar dosa adalah dalam sebuah retret, dengan seorang pembimbing retret atau pembimbing rohani. Pembimbing dapat membantu kita tetap tenang di tengah ketercengangan dan patah semangat yang dapat terjadi akibat melihat secara lebih jelas daya hebat dari cinta diri dalam diri kita. Hal itu mengingatkan kita bahwa Allah tidak tercengang oleh keberdosaan kita, dan patah semangat tidak pernah berasal dari Roh Kudus.

Alasan kedua saya senang engkau mengajukan pertanyaan ini adalah karena itu menunjukkan bahwa engkau telah memahami dinamika pokok yang bekerja dalam sebuah program latihan rohani, suatu program “reformasi hidup”, demikian kadang disebut. Inti dari program yang demikian adalah kesabaran, doa dan upaya terus-menerus untuk bertumbuh dalam keutamaan-keutamaan yang meluruskan kecondongan-kecondongan terbesar dosa kita. Dosa dan kebiasaan-kebiasaan buruk selalu menyangkut perilaku yang tak teratur; kebajikan atau keutamaan adalah formasi habitus perilaku yang teratur baik. Satu-satunya cara untuk berubah dari tak teratur (misalnya, senang berbohong) menjadi teratur (senang bersikap jujur) adalah melalui bertumbuh dalam keutamaan. Dalam hal ini, kebiasaan buruknya adalah berbohong dan keutamaannya adalah jujur atau tulus. Rahmat Allah membantu kita untuk bertumbuh dalam keutamaan, seperti nutrisi membantu otot-otot bertumbuh. Tetapi, karena keutamaan dan kebiasaan buruk selalu berhubungan dengan kehendak bebas kita, kita juga harus melakukan bagian kita: melatih kehendak bebas kita dalam suatu perilaku yang teratur baik guna memperkokoh habitus perilaku yang teratur baik.

Dua Keutamaan Anti-Sensualitas

Cukup sudah teori. Dua keutamaan akan membantumu mengatasi sensualitas: penguasaan diri dan keberanian.

Sensualitas dapat menyatakan diri sebagai suatu kecondongan untuk mencari apa yang paling menyenangkan atau nyaman, bahkan hingga tahap mengurbankan apa yang sungguh baik. Penguasaan diri adalah keutamaan yang memampukan kita untuk mengendalikan keinginan-keinginan mengejar kesenangan.

Tetapi, sensualitas dapat juga menyatakan diri sebagai penolakan terhadap upaya, tekanan, atau kesulitan apabila hal-hal itu dituntut dalam mengejar apa yang sungguh baik. Keberanian adalah keutamaan untuk menghadapi halangan-halangan dari luar, kesulitan dan penderitaan guna meraih apa yang sungguh baik.

Kebijaksanaan dari Masa Silam

Dua gambar dari karya seni abad pertengahan dapat membantu kita memahami konsep-konsep di atas. Gambar yang paling sering dipergunakan untuk keutamaan penguasaan diri adalah seorang perempuan yang sedang menuangkan cairan dari sebuah bejana besar ke dalam sebuah bejana yang lebih kecil – menuangkan banyaknya cairan secara tepat.

Kesenangan yang tersedia bagi kita di sini di dunia (makanan, minuman, ilmu pengetahuan, olahraga, hubungan seksual, dan sebagainya…) itu sendiri tidaklah jahat. Semuanya adalah bagian dari ciptaan Allah. Tetapi hal-hal itu menjadi jahat ketika kita menjadikannya berhala, ketika kita menjadi hambanya. Penguasaan diri adalah keutamaan, habitus perilaku yang benar, dengan mana kita menggunakan kuasa kehendak kita untuk menikmati kesenangan-kesenangan ini dalam ukuran yang pantas dan sehat. Penguasaan diri dapat dibagi menjadi keutamaan-keutamaan spesifik, tergantung pada kesenangan yang diajukan: pantang vs kerakusan (makanan); tidak mabuk vs kemabukan (minum); kemurnian vs percabulan (kenikmatan seksual), dan sebagainya.

Gambar yang paling sering dipergunakan untuk keberanian adalah gambar seorang perempuan dengan sebuah perisai dan sebilah pedang di tangan. Sementara kita mengejar misi-hidup kita, kita terus-menerus menghadapi kesulitan dan juga musuh. Keberanian adalah keutamaan yang memampukan kita berperang melawannya dan terus maju, bukannya dihalangi olehnya. Keberanian memiliki dua manifestasi utama: kegagahan, ketika pilihan awal akan apa yang baik dan benar menuntut semacam kurban diri (misalnya, menolak suap bahkan meski itu dapat berarti kehilangan pekerjaan); ketekunan, ketika tantangan datang sesudah pilihan awal dilakukan (misalnya, tetap setia dalam suatu perkawinan yang sulit, atau dalam suatu masa sulit dalam perkawinan).

Tahap Demi Tahap

Entah manifestasi sensualitas mana yang paling nyata dalam hidup kita, kita hendak membuat suatu program hidup yang mencakup cara-cara spesifik bagi kita untuk melatih keutamaan-keutamaan ini. Dalam kedua kasus di atas, konsep pokoknya adalah disiplin diri. Dan bertumbuh dalam keutamaan hanya terjadi tahap demi tahap. Mulailah dari yang kecil, membentuk habitus kecil penguasaan diri (pergi tidur pada waktu yang sama setiap malam, misalnya, atau mandi lebih cepat pada pagi hari kerja, atau berpantang dari sekedar memencet tombol-tombol…). Ini akan mulai memperkuat kapasitas kita untuk mengendalikan kecondongan-kecondongan yang telah berakar kuat dalam memperturutkan kata hati dalam mengejar kesenangan atau kenyamanan.

Akhirnya, janganlah lupa bahwa standard yang telah Kristus tetapkan bagi kita dalam setiap keutamaan, termasuk penguasan diri dan keberanian, bukanlah standard yang dapat kita ikuti dengan semata-mata mengandalkan kekuatan kita sendiri. Kita membutuhkan rahmat Allah. Itulah sebabnya mengapa setiap program hidup harus juga mencakup suatu program doa. Kita perlu menyisihkan waktu setiap hari untuk memeditasikan teladan Kristus – penguasaan diri-Nya pada waktu pencobaan di padang gurun, kegagahan-Nya menantang otoritas yang rusak akhlaknya di Yerusalem, ketekunan-Nya dalam misi bahkan hingga wafat di salib… Yesus adalah teladan setiap keutamaan, dan apabila kita memeditasikan teladan-Nya, rahmat-Nya mengalir ke dalam hati kita dan membantu kita mengikuti-Nya, sebagaimana rahmat-Nya menyembuhkan perempuan yang sakit pendarahan kala perempuan itu menjamah jumbai jubah-Nya (lihat Matius 9). Bersama sakramen-sakramen, doa batin harian macam ini merupakan unsur paling efektif untuk memastikan perkembangan dalam pertumbuhan rohani.

Damai Kristus, P John Bartunek, LC, ThD

sumber : “What virtues can I practice to overcome the root sin of sensuality?” by Fr John Bartunek, LC; Copyright © 2010 Catholic Spiritual Direction; http://rcspiritualdirection.com/blog
“diterjemahkan oleh YESAYA: yesaya.indocell.net atas ijin Catholic Spiritual Direction”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s