Bagaimana Mengatasi Akar Dosa Kesia-siaan?

Posted: Februari 14, 2011 in religion

oleh: P. Edward McIlmail, LC

Pater Edward, mohon petunjuk keutamaan-keutamaan untuk mengatasi akar dosa kesia-siaan.

“Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia.” Ayat dari Kitab Pengkhotbah menggema sebagai kebenaran pada masa sekarang seperti pada masa ayat itu ditulis. Kesia-siaan adalah salah satu dari ketiga akar dosa yang menjangkiti umat manusia. Kebanyakan ekonomi kita dibangun atas dasar kesia-siaan, membantu orang untuk menampilkan “image” yang tepat. Pikirkanlah betapa banyak uang yang dibelanjakan untuk kosmetik dan baju-baju trendy dan mobil-mobil mengkilap.

Bagaimanakah kesia-siaan berbeda dari kedua akar dosa yang lain, yakni kesombongan dan sensualitas? Ringkasnya, kita dapat mengatakan kesombongan sebagai dosa di mana kita menempatkan diri kita lebih utama dari Tuhan; sensualitas sebagai dosa di mana kita mengutamakan barang-barang; dan kesia-siaan sebagai dosa di mana kita mengutamakan pengakuan orang lain.

Sama seperti akar-akar dosa lainnya, kesia-siaan berasal dari rasa tidak aman. Kita menempatkan rasa aman kita pada apa yang orang lain pikir mengenai kita. Kita terus-menerus mencari penghargaan, pujian dan hormat dari orang lain. Kita ingin tampak “hebat”. Bukannya memusatkan diri pada Kristus dan membiarkan-Nya menjadi pusat perhatian kita, malahan kita mencari sanjungan dari orang lain. “Bagaimana pendapat mereka mengenai aku?” terus-menerus merupakan pusat perhatian orang yang condong pada kesia-siaan. Ini berbeda dari situasi di mana kita menghendaki kebaikan-kebaikan kita dikenali agar Allah dimuliakan dan agar kita mempunyai pengaruh lebih luas untuk mendatangkan kebaikan. Memiliki dan memelihara reputasi jujur, misalnya, membantu kita untuk menarik orang-orang lain bergabung dengan kita dalam melakukan perbuatan-perbuatan cinta kasih.

Kesia-siaan dapat juga memanifestasikan diri dalam rasa malu. Kita begitu khawatir akan penerimaan orang hingga kita menutup diri dan menghindari kontak dengan orang lain. Bentuk-bentuk lain dari kesia-siaan meliputi menggosip, membual, “membelokkan kebenaran”, dan terpedaya oleh hormat manusia.

Akar dosa ini dapat juga memicu dosa-dosa melawan kemurnian. Dalam perkara-perkara demikian, kenikmatan jasmani yang tidak sepatutnya tidak lebih dicari dari perasaan diterima oleh yang lain. Sayang, “penerimaan” yang demikian seringkali terbukti tidak bertahan lama.

Pada umumnya, kesia-siaan menyatakan diri dalam perhatian berlebihan atas penampilan jasmani seseorang. Atau orang dapat menjadi mudah putus asa oleh kegagalan. Pula, orang yang condong pada kesia-siaan dapat menyerah pada bermuka dua atau kemunafikan, meninggalkan prinsip-prinsipnya agar dapat “diterima”. Orang dapat menjalin persahabatan dengan orang-orang terpandang demi mendapatkan perhatian. Pesahabatan yang demikian dapat dengan cepat menghantar orang pada kecemburuan dan melukai ego.

Bagaimanakah seorang dapat melawan kesia-siaan? Beberapa strategi kami tawarkan. Yang pertama berhubungan dengan kemurnian niat. Ini berarti melakukan perbutan-perbuatan baik untuk alasan-alasan yang benar. Apabila seorang melakukan suatu “perbuatan baik” karena hasrat untuk dipuji, maka perbuatan tersebut kehilangan nilainya di mata Tuhan. “Apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya” (Matius 6:2). Kuncinya adalah melakukan perbuatan-perbuatan cinta kasih yang tersembunyi, yang dilihat hanya oleh Allah saja. Ini membangun keakraban dengan Allah dan menanamkan dalam diri kita suatu keacuhan yang sehat terhadap pujian dunia.

Strategi lain dalam melawan kesia-siaan adalah menanamkan kasih kepada Kristus dalam diri orang-orang lain. Yakni, menawarkan perbuatan-perbuatan baik kepada Kristus. Belajar untuk melihat-Nya dalam diri sesama dan mengasihi-Nya dalam diri sesama. Kesadaran akan kehadiran Kristus dalam diri sesama ini telah menggerakkan tak sedikit para kudus pada cinta kasih yang universal dan gagah berani. Dengan cinta kasih universal kita bermaksud menunjukkan cinta kasih dan kebaikan pada semua orang, tanpa peduli kepribadian ataupun perangai mereka. Ini bukan tugas yang mudah. Mudah berlaku baik pada seseorang yang menyenangkan. Adalah jauh lebih sulit berlaku baik pada seseorang yang mudah naik pitam atau tak tahu adat atau tak tahu berterima kasih. Itulah sebabnya mengapa menjangkau seorang yang sulit sangat membantu dalam memurnikan niat-niat kita. Sebab pada tahap itu, kita bermurah hati demi cinta kepada Kristus, bukan demi cinta kepada pujian.

Akhirnya, belajarlah untuk dengan segera mengakui kesalahan-kesalahanmu. Ini membantumu dalam kerendahan hati dan memelihara kesahajaan hati. Semakin cepat kita mengendalikan kesia-siaan, semakin cepat kita hidup benar di hadapan Kristus.

Damai Kristus, P Edward McIlmail, LC

* Father McIlmail is a theology instructor at Mater Ecclesiae College in Greenville, RI.

sumber : “How can I overcome the root sin of vanity?” by Father Edward McIlmail, LC; Copyright © 2011 Catholic Spiritual Direction; http://rcspiritualdirection.com/blog
“diterjemahkan oleh YESAYA: yesaya.indocell.net atas ijin Catholic Spiritual Direction”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s