7 Dosa Pokok Versus 3 Akar Dosa

Posted: Februari 14, 2011 in religion

7 Dosa Pokok versus 3 Akar Dosa
oleh: P. John Bartunek, LC, ThD

Pater John, dalam Katekismus diajarkan ada tujuh dosa pokok, yaitu: kesombongan, ketamakan, kedengkian, kemurkaan, percabulan, kerakusan, kelambanan atau kejemuan. Dalam klasifikasi Pater hanya ada tiga. Mohon penjelasan.

Pertanyaan di atas menggambarkan betapa sungguh kayanya iman Katolik kita; melampaui kemampuan kita untuk memahaminya; selalu ada lagi yang perlu kita pelajari. Itulah sebabnya mengapa konsep “akar dosa” dapat dilihat, dijelaskan dan dipahami dari bermacam perspektif yang berbeda, seperti sebutir berlian yang memancarkan keindahannya melalui beragam segi permukaannya yang berbeda. Apa yang tampak sebagai kontradiksi antara penggolongan akar dosa menjadi tujuh atau tiga, perlu dipahami secara demikian.

Menyambut Kekayaan Rohani

Sebelum saya menjelaskan, saya hendak mengilustrasikan point ini dengan suatu topik yang berbeda. Katekismus seringkali mengacu kembali pada gagasan-gagasan kunci. Sebagai misal, dalam #45 diajarkan kepada kita tujuan keberadaan manusia: “Manusia diciptakan supaya hidup dalam persatuan dengan Allah, di mana ia menemukan kebahagiaannya.” Kalimat sederhana itu bagai sebuah bom atom; kecil, namun dayanya dahsyat. Tetapi kemudian, dalam #1721, Katekismus memberikan suatu penjelasan yang tampaknya berbeda mengenai tujuan keberadaan manusia: “Allah memanggil kita ke dalam keberadaan, supaya kita mengenal Dia, melayani Dia, mengasihi Dia dan dengan demikian masuk ke dalam Firdaus.” Sungguh adakah suatu kontradiksi di sini? Dalam kata-kata, ya; dalam makna dari kata-kata itu, tidak. Realita tujuan kita sebagai manusia merupakan sesuatu yang begitu mengagumkan, mendalam dan meliputi beragam segi hingga dapat dijabarkan dalam beribu cara, sebagaimana halnya banyak aspek-aspek lain dari wahyu ilahi. Apabila kita mulai mempergunakan intelejensi kita untuk mempelajari makna terlebih mendalam dari iman kita, patutlah kita mencamkan ini dalam benak. Jika tidak, kita dapat menjadi terlalu terpancang pada rumusan-rumusan tertentu, sehingga kehilangan pointnya. Sepanjang sejarah Gereja, keterpancangan macam demikian telah menghasilkan buah-buah yang teramat pahit – bidaah, skisma, fitnah, hukuman mati, dan pemberontakan, hanyalah sebagian kecil di antaranya.

Tujuh dari Tiga

Sekarang, kembali ke akar dosa. Bagian dalam Katekismus yang membicarakan tujuh dosa pokok yang engkau sebutkan dalam pertanyaanmu, tengah membahas konsep kebiasaan buruk. Kebiasaan buruk adalah lawan dari kebajikan atau keutamaan. Sementara keutamaan adalah pola perilaku habitual [= kebiasaan] yang selaras dengan kehendak Allah dan tujuan hidup kita, kebiasaan buruk adalah pola perilaku habitual [= kebiasaan] yang bertentangan dengan tujuan tersebut. Katekismus menjelaskan bahwa, “Pengulangan perbuatan-perbuatan jahat yang sama mengakibatkan kebiasaan buruk… Mereka dinamakan dosa-dosa pokok, karena mengakibatkan dosa-dosa lain dan kebiasaan-kebiasaan buruk yang lain.” Menggolongkan kebiasaan buruk dengan menghubungkannya dengan dosa-dosa pokok berasal dari tradisi Katolik kita, dan bahkan merefleksikan etika filsafat sebagaimana diajarkan oleh Plato dan Aristoteles. Kebiasaan-kebiasaan buruk ini disebut “pokok” sebab memunculkan begitu banyak dosa-dosa lain (“caput” dalam bahasa Latin berarti “kepala” atau sumber). Jika aku membiarkan diri dikuasai amarah, misalnya, aku dapat melakukan balas dendam dengan membunuh. Jika aku iri akan kedudukan seorang di kantor, aku dapat memfitnahnya supaya pimpinan memecatnya. Pembunuhan atau fitnah merupakan akibat dari dosa lain, yakni dosa pokok.

Akan tetapi, ketika berbicara mengenai “akar dosa”, para penulis rohani melihat ke dalam kecondongan-kecondongan yang berakar kuat pada cinta diri yang telah kita warisi karena dosa asal. Inilah kecondongan-kecondongan untuk mencari kebahagiaan di luar persatuan dengan Allah. Kecondongan-kecondongan itu pada hakekatnya bukanlah kebiasaan buruk, sebab tidak terjadi sebagai akibat dari dosa-dosa pribadi yang diulang. Melainkan, kecondongan-kecondongan itu merupakan bahan baku dari mana kebiasaan buruk muncul. Kita dapat memperbaiki kebiasaan-kebiasaan buruk dengan membina keutamaan-keutamaan, tetapi kita tak pernah dapat sepenuhnya memberantas (“mencabut”) kecondongan-kecondongan kita pada cinta diri. Kecondongan-kecondongan itu tetap ada dan kita harus melawannya.

Sesungguhnya, kebiasaan-kebiasaan buruk pokok berasal dari kecondongan-kecondongan cinta diri itu, akar-akar dosa itu. Kerakusan (kelekatan kuat pada kesukaan akan makanan dan minuman), kelambanan (kelekatan kuat pada kenyamanan dan kemudahan), dan percabulan (kelekatan kuat pada kenikmatan seksual) tumbuh dari akar dosa sensualitas. Masing-masing mencari kebahagiaan melalui barang atau pengalaman jasmani. Kedengkian (ketidaksenangan atas keberhasilan atau kemujuran orang lain) dan ketamakan (keinginan untuk memiliki apa yang menjadi milik sah orang lain) dapat berasal dari kesia-siaan (mencari kepuasan diri dari pengakuan dan pujian orang lain), jika alasan ketidaksenanganku pada orang lain, misalnya, adalah karena ia mendapatkan lebih banyak perhatian dari yang aku dapatkan. Tetapi, kedengkian dan ketamakan dapat juga berasal dari kesombongan (mencari kepuasan diri dalam keunggulan dan keberhasilan diri sendiri), jika alasan untuk menginginkan kedudukan orang lain, misalnya, adalah karena aku ingin menegaskan keunggulanku atasnya. Terlebih rumit lagi, ketamakan dapat juga merupakan manifestasi dari sensualitas: aku serakah, misalnya, sekedar sebab aku ingin menikmati hidup dan bukannya harus bekerja keras sepanjang waktu. Hakekat yang menjebak dari ketamakan ini merupakan satu alasan St Paulus mengingatkan kita bahwa “akar segala kejahatan ialah cinta uang” (1 Timotius 6:10).

Sekarang, jika kalian belum bingung (dan di sini kita sekedar mengais permukaan teologis: Summa Theologiae oleh St Thomas Aquinas memuat daftar lebih dari seratus kebiasaan buruk dan keutamaan, dan juga, berakhir dengan penelusuran kembali SETIAP kebiasaan buruk dan dosa pada kesombongan), kalian mungkin telah mengerti mengapa banyak penulis rohani mendorong kita untuk memusatkan perhatian pada ketiga akar dosa. Jika kita sekedar memusatkan perhatian pada memberantas kebiasaan-kebiasaan buruk itu sendiri, kita dapat dengan mudah mematahkan cabang-cabang dari rumput bebal cinta diri, daripada mengerat batangnya sedikit demi sedikit.

Akan tetapi, pada akhirnya, alasan utama dari upaya mengelompokkan tipe-tipe dosa (kebiasaan-kebiasaan buruk) yang berbeda dan kecondongan- kecondongan tak teratur yang memunculkan akar dosa adalah untuk membantu kita bekerja secara cerdas dalam upaya kita untuk meneladani Kristus dengan lebih sempurna. Untuk tujuan itu, masing-masing kita bebas untuk menggunakan pengelompokan manapun yang paling membantu kita.

Damai Kristus, P John Bartunek, LC

sumber : “Root sin classifications… which one is right?” by Father John Bartunek, LC; Copyright © 2009 Catholic Spiritual Direction; http://rcspiritualdirection.com/blog
“diterjemahkan oleh YESAYA: yesaya.indocell.net atas ijin Catholic Spiritual Direction”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s